KITAB
SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja
Katolik | |
|
30. St. Marsellus I (308-309)
Marsellus adalah orang Romawi. Dalam masa kepausan St. Marselinus (296-304), dia adalah seorang seorang imam. Dia terpilih menjadi paus pada 27 Mei 308 setelah terjadi kekosongan Takhta Suci selama 4 tahun. Ini adalah sejarah kekosongan terlama dalam Sejarah Kepausan. Gereja pada masa itu mengalami goncangan besar karena penganiayaan terhadap orang-orang Kristen oleh Kaisar Diokletianus.
Kepemimpinannya berlangsung di tengah-tengah situasi Gereja yang kacau balau. Pelayanan iman dan pewartaan Sabda tidak berjalan. Umat tercerai berai tanpa bimbingan seorang gembala. Zaman itu Gereja dikejar-kejar. Dalam situasi yang memprihatinkan ini Marsellus berkewajiban mengatur kembali administrasi Gereja dan mengatasi segala permasalahannya. Tindakan pertama yang dilakukannya ialah mereorganisasi Takhta Suci dan membangun kembali gereja-gereja yang dihancurkan, lalu membagi Gereja dalam wilayah-wilayah pelayanan(paroki) di bawah pimpinan seorang imam. Para imam bertugas mengajar umat terutama katekumen, melayani Sakramen Pengakuan, mendoakan dan turut menguburkan jenasah orang-orang Kristen yang meninggal, dan bersama umat merayakan upacara untuk mengenang para martir. Marsellus pun membangun sebuah pemakaman baru untuk orang-orang Kristen di Jalan Salaria, Roma, serta menetapkan bawa yang boleh memutuskan penyelenggaraan konsili hanyalah paus. Usaha-usaha Mersellus untuk mengatur kembali gereja terhambat oleh perbedaan pendapat tentang masalah orang-orang Kristen yang murtad ketika penganiayaan dan pengejaran terhadap mereka. Mereka ingin kembali menjadi Kristen tanpa menjalani kewajiban bertobat. Marellus bertindak tegas dengan menuntur agar orang-orang itu harus terlebih dahulu bertobat, dan mengakui kesalahannya serta menjalankan penitensi yang berat. Hal ini ditentang oleh banyak orang hingga memuncak menjadi suatu peristiwa berdarah. Karena peristiwa ini, Kaisar Maxentius (306-312)mengkap dan mengasingkan Marsellus ke luar Roma.
Banyak cerita yang beredar tentang akhir hidup Marsellus. Salah satu cerita itu ialah bahwa Kaisar Maxentius yang tidak setuju dengan usaha-usaha Marsellus, menghukumnya dengan kerja paksa; membersihkan kandang ternak kaisar. Tetapi dengan bantuan umat, Marsellus dapat meloloskan diri dari tempat siksaan itu dan berlindung di dalam sebuah rumah keluarga bangsawan di kota. Namun kemudian tempat persembunyian ini diketahui oleh kaki tangan kaisar Maxentius. Marsellus akhirnya ditangkap, lalu dibunuh dengan cara yang sangat keji. Ia wafat sebagai martir pada 26 Januari 309.
|